Judul:
Cold Couple
Penulis:
Bayu Permana
Penerbit:
Aksara Plus
Tebal Buku:
280 halaman
Genre:
Fiksi Remaja
Tahun
Baca: 2020
Nilai: 2,5⭐
Blurb:
“Kita yang terluka, kita yang
mencinta, kita yang sama.”
Ini adalah
kisah cinta antara Sandra dan Edgar, dengan sifat keduanya yang hampir mirip.
Sandra adalah gadis pendiam dan Edgar adalah lelaki yang dingin.
Sandra
yang awalnya menjalani home schooling terpaksa
harus pindah ke sekolah formal karena paksaan ayahnya. Sifat pendiamnya membuat
Sandra sulit bersosialisasi, sehingga membuat semuanya terasa sukar dijalani.
Terlebih, Sandra memiliki sebuah fobia yang tak biasa, yaitu fobia terhadap
sentuhan. Ia sama sekali tidak bisa disentuh, dan bisa pingsan bila mendapapt
sentuhan sedikit saja. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Edgar, siswa yang
dijuluki pangeran es oleh orang-orang disekitarnya.
Lelaki itu
memang terkenal dingin, cuek, dan jarang bicara. Namun, ketika mengetahui
tentang fobia yang dialami Sandra, muncul keinginan dalam hatinya untuk
melindungi gadis itu. Edgar bisa menunjukkan perhatian dan sayangnya tanpa
harus banyak bicara.
Mereka
bisa saling memahami, meskipun hanya dalam diam. Dan ini adalah sebuah gambaran
tentang es yang dingin beku, tetapi ternyata memiliki kehangatan didalamnya.
Review:
Pertama
kali saya tahu buku ini dari sebuah platform yang bernama Wattpad, karena emang
dulu lagi seneng-senengnya para anak sekolahan pake aplikasi oranye itu buat
baca cerita gratis. Tapi saya nemu cerita Cold Couple ini disana ketika udah diterbitkan,
jadi ya, saya cuma bisa baca dari sisa beberapa bab yang memang ditinggalin dan
enggak dihapus oleh penulis. Dan baru sekarang, saya punya kesempatan buat baca
cerita ini seluruhnya.
Omong-omong,
kenapa saya kasih nilai 2.5 buat buku ini dan enggak sampe nginjek angka 3.0?
Itu karena saya pikir, selera saya masih sama seperti jaman-jamannya baca
wattpad dulu, dimana saya yang masih berusia sekitar 15 tahun suka sama cerita
yang dimana para cowok ganteng di dalamnya berlagak dingin dan datar kayak
tembok. Tapi setelah sekian lama itu ternyata selera saya berubah. Dimana cerita
yang semacam itu membuat saya tidak sebegitu histeris kayak dulu lagi, hohoho.
Saya nyari
buku ini buat saya baca karena didasari oleh rasa penasaran dari sisa ingatan dan
sensasi yang masih tertinggal di otak ketika baca ceritanya di wattpad sekitar dua
tahun lalu. Dan kalau dipikir-pikir setelah saya baca lagi baru mendapat
beberapa lembar di awal buku, sosok Edgar yang begitu dingin dan kelewat cuek
di cerita ini membuat saya aneh dan geli sendiri. Iya, Edgar bersikap dingin
seperti itu karena didasari oleh pahitnya masalalu yang dialaminya karena
kematian sang ayah yang tragis. Dan sampai segede itu dia belum bisa menerima
takdir yang telah menimpa ayahnya. Ditambah lagi, paman dan bibinya yang selalu
menjadi benalu di kehidupannya dan ibunya membuat Edgar berpikir bahwa semua
orang itu sama saja. Dia mengira bahwa semua orang disekitarnya berlagak palsu
dan tidak ada yang benar-benar murni bersikap baik.
Saya sempat curiga bahwa kesehatan mental Edgar itu terganggu, pasalnya sikap
dingin dan irit bicaranya disini menurut saya sangat berlebihan dan
tidak masuk akal. Dia seperti membuat benteng pertahanan untuk dirinya sendiri
dari orang-orang disekitarnya. Tetapi semua itu tidak berlaku untuk seorang
gadis baru bernama Sandra. Seorang gadis canggung dan pendiam yang memiliki
fobia terhadap sentuhan. Tanpa disangka-sangka dan secara tiba-tiba pula Edgar
bisa jatuh hati padanya (bagian ini semakin membuat saya mengernyitkan kening
bingung, kok bisa?) . Karena sang penulis tidak begitu mendeskripsikan sosok
Edgar dengan spesifik kenapa bisa mencintai Sandra yang jelas-jelas seorang
yang sangat asing untuknya.
Diawali dari
Edgar yang tiba-tiba menawari Sandra tumpangan untuk pulang bareng. Semakin aneh
lagi karena notabenya sosok Edgar adalah si dingin dan cuek yang tidak peduli
terhadap siapapun. Dan saya semakin terkejut saat keesokan harinya Edgar
bertamu kerumah Sandra dengan niat untuk mengajaknya berangkat bareng
kesekolah. Lalu dengan dan tanpa persetujuan siapapun saat terjadi kejadian
tidak menyenangkan di kantin karena ulah Sanggi (si cowok usil playboy yang mau deketin Sandra), Edgar
datang menolong dengan mengklaim bahwa Sandra adalah ceweknya. Saya mengira itu
hanya bentuk pembelaan yang Edgar lakukan saja di depan umum. Tetapi saat
membaca lagi, Edgar beneran serius dengan perkataannya bahwa dia mau Sandra
jadi ceweknya dengan bilang bahwa sekarang Sandra adalah prioritasnya (aneh
banget, deh). Dan, Edgar menyatakan bahwa Sandra sekarang adalah miliknya dan
akan selalu ada buat melindunginya. Haduh, saya bingung dan pusing bagaimana
mau menyimpulkan sosok Edgar ini dengan tingkahnya yang tidak terduga dan begitu
membingungkan. Di kacamata saya, si Edgar ini bukanlah sosok dingin dan cool seperti yang di tuliskan. Semua
citra es nya hilang di mata saya karena pengakuannya yang secara tiba-tiba
menyukai Sandra tanpa bisa dijelaskan. Kalau jatuh cinta memang seperti itu,
berarti benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa cinta memang tidak bisa
dimengerti, wkwkwk.
Terkait kekurangan
yang saya paparkan dengan sosok Edgar dalam buku ini. Saya, menyukai beberapa amanat
yang diselipkan oleh penulis pada cerita ini. Pertama, kasih sayang ayah yang
ditunjukkan oleh ayah Sandra begitu menginspirasi. Sosok seorang single parent yang dijalaninya tidak
menjadikan ayah Sandra kewalahan dalam membesarkan putri semata wayangnya sendirian.
Beliau mencoba membantu menyembuhkan fobia yang diderita putrinya dengan
sengaja memaksa anaknya untuk bersekolah di sekolah resmi. Kedua, sosok Tika
(ibu Edgar, yang menurut saya sendiri agak bodoh dalam menyikapi sesuatu) yang
tetap berusaha mempertahankan hubungan baik dengan adiknya, Cecil, walaupun saya
juga sependapat dengan Edgar bahwa seorang yang terus-terusan menjadi benalu
dan tidak tahu diri di keluarganya itu tidak layak dikasih hati. Tetapi dengan
sabarnya Tika tidak mempersalahkan hal itu dan terus membantu keuangan adiknya
yang notabenya sudah menikah.
Konflik dimulai
saat Edgar tahu bahwa masa lalu kelam yang dialami Sandra ada hubungannya
dengan suami Cecil, Andrew. Dia adalah salah satu penyebab pelaku pelecehan
yang membuat Sandra fobia pada sentuhan sejak kejadian buruk itu menimpanya. Sandra
akhirnya buka mulut, dan ayahnya mengambil jalur hukum pada penanganan kasus
putrinya itu.
Cecil yang
belum kapok atas peristiwa yang menimpa suaminya itu datang lagi kerumah
kakaknya dan masuk ke kamar Edgar guna mencari surat-surat tanah yang
diincarnya selama ini dari kakaknya dan semua bukti yang dimiliki Edgar untuk
menjebloskannya ke penjara. Edgar berbohong bahwa bukti itu berada dalam tasnya
dan berniat akan membawanya ke kantor polisi. Alhasil terjadilah kejar-kejaran
antara keduanya yang menyebabkan Edgar kecelakaan karena sengaja ditabrak oleh Cecil
yang nekat. Tentu saja itu jadi kasus tambahan untuk polisi menangkapnya
kedalam jeruji besi.
Setelah semua
kejadian itu dan Edgar sembuh dari lukanya. Ada orang yang menemuinya untuk
bilang terima kasih karena merasa berhutang nyawa atas apa yang telah dilakukan
ayahnya dulu karena telah menyelamatkan nyawa orang itu. Edgar ditawari jika
butuh bantuan ataupun butuh sesuatu dia bisa minta ke orang itu. Tetapi kali
ini, Edgar sadar bahwa dia harus belajar mengikhlaskan dan belajar menerima
atas apa yang telah ditetapkan Tuhan setelah peristiwa yang terjadi dalam
hidupnya. (kalau gini Edgar keren banget, deh)
Dan soal
hubungannya dengan Sandra. Dia bener-bener tepatin janji dia buat bantu Sandra
bisa sembuh dari fobianya dan itu sudah memberikan kemajuan yang besar buat
Sandra. Akhirnya dia udah bisa menyentuh dan memeluk ayahnya tanpa pingsan
walaupun hanya sebentar.
Note: Maaf
jika dalam me-review terdapat banyak kekurangan apalagi mengandung spoiler. Ini hanya merupakan pendapat
pribadi saya atas apa yang telah saya tangkap ketika membaca buku ini. Terima kasihJ
















0 komentar:
Posting Komentar