Kamis, 13 Agustus 2020

,

Cold Couple - Bayu Permana


Judul: Cold Couple

Penulis: Bayu Permana

Penerbit: Aksara Plus

Tebal Buku: 280 halaman

Genre: Fiksi Remaja

Tahun Baca: 2020

Nilai: 2,5⭐


Blurb: 

“Kita yang terluka, kita yang mencinta, kita yang sama.”

Ini adalah kisah cinta antara Sandra dan Edgar, dengan sifat keduanya yang hampir mirip. Sandra adalah gadis pendiam dan Edgar adalah lelaki yang dingin.

Sandra yang awalnya menjalani home schooling terpaksa harus pindah ke sekolah formal karena paksaan ayahnya. Sifat pendiamnya membuat Sandra sulit bersosialisasi, sehingga membuat semuanya terasa sukar dijalani. Terlebih, Sandra memiliki sebuah fobia yang tak biasa, yaitu fobia terhadap sentuhan. Ia sama sekali tidak bisa disentuh, dan bisa pingsan bila mendapapt sentuhan sedikit saja. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Edgar, siswa yang dijuluki pangeran es oleh orang-orang disekitarnya.

Lelaki itu memang terkenal dingin, cuek, dan jarang bicara. Namun, ketika mengetahui tentang fobia yang dialami Sandra, muncul keinginan dalam hatinya untuk melindungi gadis itu. Edgar bisa menunjukkan perhatian dan sayangnya tanpa harus banyak bicara.

Mereka bisa saling memahami, meskipun hanya dalam diam. Dan ini adalah sebuah gambaran tentang es yang dingin beku, tetapi ternyata memiliki kehangatan didalamnya.

 

Warning: Review ini mengandung spoiler!

Review:

Pertama kali saya tahu buku ini dari sebuah platform yang bernama Wattpad, karena emang dulu lagi seneng-senengnya para anak sekolahan pake aplikasi oranye itu buat baca cerita gratis. Tapi saya nemu cerita Cold Couple ini disana ketika udah diterbitkan, jadi ya, saya cuma bisa baca dari sisa beberapa bab yang memang ditinggalin dan enggak dihapus oleh penulis. Dan baru sekarang, saya punya kesempatan buat baca cerita ini seluruhnya.

Omong-omong, kenapa saya kasih nilai 2.5 buat buku ini dan enggak sampe nginjek angka 3.0? Itu karena saya pikir, selera saya masih sama seperti jaman-jamannya baca wattpad dulu, dimana saya yang masih berusia sekitar 15 tahun suka sama cerita yang dimana para cowok ganteng di dalamnya berlagak dingin dan datar kayak tembok. Tapi setelah sekian lama itu ternyata selera saya berubah. Dimana cerita yang semacam itu membuat saya tidak sebegitu histeris kayak dulu lagi, hohoho.

Saya nyari buku ini buat saya baca karena didasari oleh rasa penasaran dari sisa ingatan dan sensasi yang masih tertinggal di otak ketika baca ceritanya di wattpad sekitar dua tahun lalu. Dan kalau dipikir-pikir setelah saya baca lagi baru mendapat beberapa lembar di awal buku, sosok Edgar yang begitu dingin dan kelewat cuek di cerita ini membuat saya aneh dan geli sendiri. Iya, Edgar bersikap dingin seperti itu karena didasari oleh pahitnya masalalu yang dialaminya karena kematian sang ayah yang tragis. Dan sampai segede itu dia belum bisa menerima takdir yang telah menimpa ayahnya. Ditambah lagi, paman dan bibinya yang selalu menjadi benalu di kehidupannya dan ibunya membuat Edgar berpikir bahwa semua orang itu sama saja. Dia mengira bahwa semua orang disekitarnya berlagak palsu dan tidak ada yang benar-benar murni bersikap baik.

Saya sempat curiga bahwa kesehatan mental Edgar itu terganggu, pasalnya sikap dingin dan irit bicaranya disini menurut saya sangat berlebihan dan tidak masuk akal. Dia seperti membuat benteng pertahanan untuk dirinya sendiri dari orang-orang disekitarnya. Tetapi semua itu tidak berlaku untuk seorang gadis baru bernama Sandra. Seorang gadis canggung dan pendiam yang memiliki fobia terhadap sentuhan. Tanpa disangka-sangka dan secara tiba-tiba pula Edgar bisa jatuh hati padanya (bagian ini semakin membuat saya mengernyitkan kening bingung, kok bisa?) . Karena sang penulis tidak begitu mendeskripsikan sosok Edgar dengan spesifik kenapa bisa mencintai Sandra yang jelas-jelas seorang yang sangat asing untuknya.

Diawali dari Edgar yang tiba-tiba menawari Sandra tumpangan untuk pulang bareng. Semakin aneh lagi karena notabenya sosok Edgar adalah si dingin dan cuek yang tidak peduli terhadap siapapun. Dan saya semakin terkejut saat keesokan harinya Edgar bertamu kerumah Sandra dengan niat untuk mengajaknya berangkat bareng kesekolah. Lalu dengan dan tanpa persetujuan siapapun saat terjadi kejadian tidak menyenangkan di kantin karena ulah Sanggi (si cowok usil playboy yang mau deketin Sandra), Edgar datang menolong dengan mengklaim bahwa Sandra adalah ceweknya. Saya mengira itu hanya bentuk pembelaan yang Edgar lakukan saja di depan umum. Tetapi saat membaca lagi, Edgar beneran serius dengan perkataannya bahwa dia mau Sandra jadi ceweknya dengan bilang bahwa sekarang Sandra adalah prioritasnya (aneh banget, deh). Dan, Edgar menyatakan bahwa Sandra sekarang adalah miliknya dan akan selalu ada buat melindunginya. Haduh, saya bingung dan pusing bagaimana mau menyimpulkan sosok Edgar ini dengan tingkahnya yang tidak terduga dan begitu membingungkan. Di kacamata saya, si Edgar ini bukanlah sosok dingin dan cool seperti yang di tuliskan. Semua citra es nya hilang di mata saya karena pengakuannya yang secara tiba-tiba menyukai Sandra tanpa bisa dijelaskan. Kalau jatuh cinta memang seperti itu, berarti benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa cinta memang tidak bisa dimengerti, wkwkwk.

Terkait kekurangan yang saya paparkan dengan sosok Edgar dalam buku ini. Saya, menyukai beberapa amanat yang diselipkan oleh penulis pada cerita ini. Pertama, kasih sayang ayah yang ditunjukkan oleh ayah Sandra begitu menginspirasi. Sosok seorang single parent yang dijalaninya tidak menjadikan ayah Sandra kewalahan dalam membesarkan putri semata wayangnya sendirian. Beliau mencoba membantu menyembuhkan fobia yang diderita putrinya dengan sengaja memaksa anaknya untuk bersekolah di sekolah resmi. Kedua, sosok Tika (ibu Edgar, yang menurut saya sendiri agak bodoh dalam menyikapi sesuatu) yang tetap berusaha mempertahankan hubungan baik dengan adiknya, Cecil, walaupun saya juga sependapat dengan Edgar bahwa seorang yang terus-terusan menjadi benalu dan tidak tahu diri di keluarganya itu tidak layak dikasih hati. Tetapi dengan sabarnya Tika tidak mempersalahkan hal itu dan terus membantu keuangan adiknya yang notabenya sudah menikah.

Konflik dimulai saat Edgar tahu bahwa masa lalu kelam yang dialami Sandra ada hubungannya dengan suami Cecil, Andrew. Dia adalah salah satu penyebab pelaku pelecehan yang membuat Sandra fobia pada sentuhan sejak kejadian buruk itu menimpanya. Sandra akhirnya buka mulut, dan ayahnya mengambil jalur hukum pada penanganan kasus putrinya itu.

Cecil yang belum kapok atas peristiwa yang menimpa suaminya itu datang lagi kerumah kakaknya dan masuk ke kamar Edgar guna mencari surat-surat tanah yang diincarnya selama ini dari kakaknya dan semua bukti yang dimiliki Edgar untuk menjebloskannya ke penjara. Edgar berbohong bahwa bukti itu berada dalam tasnya dan berniat akan membawanya ke kantor polisi. Alhasil terjadilah kejar-kejaran antara keduanya yang menyebabkan Edgar kecelakaan karena sengaja ditabrak oleh Cecil yang nekat. Tentu saja itu jadi kasus tambahan untuk polisi menangkapnya kedalam jeruji besi.

Setelah semua kejadian itu dan Edgar sembuh dari lukanya. Ada orang yang menemuinya untuk bilang terima kasih karena merasa berhutang nyawa atas apa yang telah dilakukan ayahnya dulu karena telah menyelamatkan nyawa orang itu. Edgar ditawari jika butuh bantuan ataupun butuh sesuatu dia bisa minta ke orang itu. Tetapi kali ini, Edgar sadar bahwa dia harus belajar mengikhlaskan dan belajar menerima atas apa yang telah ditetapkan Tuhan setelah peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. (kalau gini Edgar keren banget, deh)

Dan soal hubungannya dengan Sandra. Dia bener-bener tepatin janji dia buat bantu Sandra bisa sembuh dari fobianya dan itu sudah memberikan kemajuan yang besar buat Sandra. Akhirnya dia udah bisa menyentuh dan memeluk ayahnya tanpa pingsan walaupun hanya sebentar.

Note: Maaf jika dalam me-review terdapat banyak kekurangan apalagi mengandung spoiler. Ini hanya merupakan pendapat pribadi saya atas apa yang telah saya tangkap ketika membaca buku ini. Terima kasihJ

0 komentar:

Posting Komentar